Saturday, October 4, 2014

Ironi Bumi Cendrawasih, Sulit Air ditengah Limpahan Air

Tahukah kalian salah satu provinsi di Indonesia yang paling banyak digenangi air dan berlimpah-ruah sumber airnya, namun masih bisa kekurangan air bersih untuk kehidupan sehari-hari? Papua Tengah merupakan bagian dari Propinsi Papua yang memiliki alam yang indah. Berada di ketinggian lebih kurang 2000 Mdpl (meter dari permukaan laut) serta memiliki suhu udara yang cukup dingin. Danau Paniai yang luas, indah dan perawan, belum tersentuh oleh penyelam danau, mungkin akibat dari airnya yang sedingin air es.

Drink Water, by: Photograph
Ada beberapa hal yang cukup membuat kita sedikit bertanya-tanya dan merasa ironi. Padatnya hutan Papua yang seperti brokoli hijau, titik mata air bening dan dingin segar ada dimana-mana di bumi Papua ini. Tapi bagaimana mungkin masyarakat disini krisis air bersih? Belakangan diketahui bersumber dari cara warga Papua Tengah menyikapi kekayaan mereka.

Air merupakan bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari tak terkecuali bagi kita yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Dalam ulasan ini kita akan menemukan hal-hal ironi di Papua Tengah. Memiliki banyak sumber mata air ternyata idak membuat Papua Tengah ‘kenyang air’ dalam hal minuman bersih, apalagi cuci-mencuci dan sistem kakus di sana.

Terkadang memang prinsip-prinsip dasar adat istiadat perlu, bahkan harus dijaga. Tetapi selayaknya prinsip-prinsip tersebut mestilah bersifat lentur dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Hal-hal yang tak biasa bisa langsung ditemukan setelah anak-anak lelah bermain dan datang ke tong penampungan air hujan untuk meneguk langsung begitu saja air hujan yang telah tertampung.

Jangan pikir kita orang kota, bahkan warga desa yang sudah terbekali banyak ilmu pengetahuan atau kepala desa di sana dapat melarang mereka untuk meneguk air hujan. Bisa-bisa kita dianggap aneh dan tak tahu menghargai mereka. Air hujan diminum seakan-akan tak ada lagi air di tanah Papua. Sungguh sebuah peristiwa yang tak pernah ditemukan di kota besar. Rasanya ironis bukan melihat kenyataan yang ada seperti demikian. Melarang mereka minum tidaklah menyelesaikan masalah. Hal yang kita anggap aneh adalah hal yang sangat ‘moderat’ di tanah Papua.

Kurangnya pendekatan secara pribadi dan ketidakpercayaan masyarakat nampaknya masih menjadi penyebab polemik yang ada, padahal air ada dimana-mana. Memang sulit rasanya untuk membuat kebiasaan baru yang baik bagi masyarakat di sebuah wilayah. Kita mengetahui masyarakat Papua memiliki sifat dengan pendirian yang kuat, oleh sebab itu sepantasnya kita harus berusaha untuk memberikan pengertian pentingnya air bersih bagi mereka.

Semoga air pegunugan, air danau dan sumber-sumber mata air lainnya di bumi cendrawasi ini suatu saat dapat bermanfaat bagi warganya. Sehingga fenomena ironi “Sulit Air Ditengah Limpahan Air” tidak lagi terjadi. Harapan tak muluk, pipa-pipa yang sempat dihancurkan kembali diperbaiki dan mengalirkan ‘Air Sejahtera’ bagi masyarakat daerah pegunungan Papua Tengah dan sekitarnya. Awetakoenaa Agapida, sebuah semboyan lokal bagi semangat Papua, Hari esok yang ceria!

Note: beberapa data diambil dari pernyataan Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe dan Asisten II Sekda Papua Elia Loupatty saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Pengelolaan Air Tanah, di Hotel Swissbel Jayapura, Senin (30/9).

No comments:

Post a Comment