Wednesday, April 27, 2016

Metro GREEN Indonesia

Kami berangkat dari kumpulan orang yang punya waktu minimal untuk 'mengurus' lingkungan, tapi kami juga orang yang punya sejuta harapan dan cita-cita terkait lingkungan. Berdasarkan kesamaan ini, kami pada 14 Januari 2016 membentuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat untuk menjalankan visi-misi kami serta menghimpun orang-orang lain yang sekiranya memiliki kesepahaman itikad.

Bukan para penggerak lingkungan dari RT, RW atau mungkin Kecamatan seperti biasa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Metro GREEN Indonesia beranggotakan para pengusaha muda yang ingin 'membalas budi' kepada lingkungan yang telah banyak memberikan keuntungan bagi para pengusaha.

Kami akrab dengan julukan 'Hidden Life', ini sesuai dengan kegiatan kelembagaan yang sering kami lakukan di 'balik layar'. Tidak begitu banyak publikasi namun sarat dengan perwujudan keadilan sosial di tengah masyarakat. LSM ini berfokus pada kelompok masyarakat yang sering terlupakan eksistensinya di suatu lingkungan di Indonesia.

Adapun Visi kami:
  • Menjadi pelaku cinta-kasih, agar masyarakat dapat merasakan dan kembali menularkannya kepada sesama.
Inilah Misi kami:
  • Mempraktikkan cinta-kasih mulai dari diri sendiri
  • Mempraktikkan cinta-kasih mulai dari hal-hal sederhana
  • Merangkul insan manusia agar dapat mempraktikkan cinta-kasih

Kami berharap agar lebih banyak lagi pengusaha yang tergerak untuk bergabung di LSM ini demi keadilan sosial, juga tanggung jawab kita terhadap lingkungan Indonesia.

Do not hesitate to contact us through:
Yehezkiel – PR Manager
Mobile: +6281287459064
Line: lee.yehezkiel

Wednesday, April 20, 2016

Air Sejahtera Metro ‘Menyegarkan’ Bumi Cendrawasih

Metro GREEN Indonesia tergerak untuk peduli dengan saudara kita di tanah Papua demi kesetaraan dan kesejahteraan mereka. Bertepatan dengan Hari Air sedunia pada 2 Mei, tahun ini Metro GREEN Indonesia mengusung gerakan nasional penggalangan dana untuk membangun infrastruktur Air Sejahtera bagi penduduk Papua Tengah. Akan diselenggarakan pertama kali di halaman Balai Kota DKI Jakarta untuk memulai rangkaian gerakan Air Sejahtera ini. Nantinya, akan ada ratusan pengusaha muda dari 24 kota di Indonesia yang akan berkumpul untuk melakukan kampanye gerakan Air Sejahtera.

Selanjutnya agenda acara akan dilaksanakan di Bundaran HI untuk penyerahan ratusan lembar giro dari para pengusaha kepada Ketua Panitia, Sugianto Lim. "Giro ini nanti dicairkan sebagai dana utama program Air Sejahtera, laporannya (transaksi) bisa di lihat di web resmi kita, jadi gak main-main", ujar Lim saat ditemui dikantornya (24/4).

Khalayak juga dapat membatu gerakan Air Sejahtera demi ketersediaan air layak minum yang cukup bagi saudara kita di Papua Tengah. "Siapa aja bisa ikutan bantu, mau cash mau debit semua bisa, nanti disediain EDC (Electronic Data Capture). Terbuka untuk umum", tambah Anton Tan, wakil Lim.

Papua Tengah merupakan salah satu daratan di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan paling banyak digenangi air, namun masih didapati kekurangan air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Berada di ketinggian lebih kurang 2000 Mdpl (meter dari permukaan laut) serta memiliki suhu udara yang cukup dingin.

Air merupakan bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari tak terkecuali bagi kita yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Memiliki banyak sumber mata air ternyata tidak membuat Papua Tengah ‘kenyang air’ dalam hal minuman bersih, apalagi cuci-mencuci dan sistem kakus di sana.

Ada beberapa hal yang dapat membuat kita sedikit bertanya-tanya dan merasa ironi. Padatnya hutan Papua yang lebat, titik mata air bening dan dingin segar ada dimana-mana di bumi Papua ini. Tapi bagaimana mungkin masyarakatnya krisis air bersih? Belakangan diketahui disebabkan dari cara warga Papua Tengah dalam menyikapi kekayaan alam mereka.

Kita diajak untuk membuka mata akan hal ini, tak berhenti sampai di situ kita ditantang untuk dapat melakukan sesuatu yang mungkin sederhana, namun sangat berarti bagi saudara kita di Papua Tengah. Tidakkah kita senang dan bangga jika Indonesia ini setara dalam kesejahteraan dan pemenuhan akan salah satu kebutuhan utama, yaitu air? Jadi, mari gabung dan ambil bagian mensejahterakan Indonesia!

Rekan wartawan sekalian diundang meramaikan acara ini.
Do not hesitate to contact us through:
Yehezkiel – PR Manager
Mobile: +6281287459064
Line: lee.yehezkiel

Note: beberapa data diambil dari pernyataan Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe dan Asisten II Sekda Papua Elia Loupatty saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Pengelolaan Air Tanah, di Hotel Swissbel Jayapura, Senin (30/9).

Wednesday, April 13, 2016

Banyak Kata Mampu Merubah, Beberapa Foto dapat Menggugah



Pemulung di Kali Baru, by: Peserta Photography and Essay Exhbition

Keruhnya Kali Baru, batang pohon yang tumbang dan sampah yang menggenang dianggap sebagai kolam rejeki bagi seorang pria bertelanjang dada ini. Betapa tidak, dia mengumpulkan botol-botol bekas di dalam karungnya yang mengapung bersama asa akan mimpi meraup rupiah dari pekerjaan halalnya. Tidak ada jijik, bisa menyambung hidup tiap harinya lebih penting dibanding hanya sekedar mendengar cibir dari mulut sumbang.

Hal menarik ini juga yang dianggap penting bagi civitas akademika Universitas Bunda Mulia, Jakarta Utara untuk mengantarkan ide mulia ini kepada masyarakat luas. Masyarakat khususnya mahasiswa diajak untuk lebih memahami arti pentingnya peduli lingkungan dan juga mengapresiasi mereka pekerja lingkungan yang sangat sering dilupakan bahkan tidak dianggap hampir di seluruh bagian dunia ini.

Journal-Is-Me dan Click! dalam hal ini di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora menggelar “Photography and Essay Exhibition” untuk menghimpun kegiatan akademis sekaligus mengangkat ide utama “Save Earth: Focus on The Future” sebagai wujud kepedulian Universitas terhadap lingkungan.

Ekibisi ini diselenggarakan mulai tanggal 19 sampai dengan 21 April 2016. Yuri Alfrin selaku pembina acara mengungkapkan perlunya diadakan acara penting ini guna menumbuhkan nilai-nilai peduli lingkungan. Menurutnya, acara ini sengaja dimasukkan kedalam rangkaian Social Science Week.

Kesuksesan acara dapat kita ketahui dari berbagai pendapat pengunjung yang hadir. Nindy, yang adalah mahasiswi Universitas ini mengakatan acara-acara tentang kepedulian lingkungan memang perlu untuk diadakan. Dari penjelasan Nindy, acara kurang dikemas menarik, sehingga tidak banyak yang datang untuk melihat pameran ini. Mahasiswa yang datang melihat kebanyakan karena ada tulisan atau hasil jepretan temannya yang dipajang saat pameran berlngsung.

Universitas Bunda Mulia (UBM) memang terkernal sangat aware terhadap kelestarian lingkungan dan budaya. Sudah banyak acara perduli lingkungan yang diselenggarakan dan semuanya terbilang sukses, bahkan pekan Ilmu dan Sosial ini pun sebenarnya sudah dilaksanakan tiga tahun berturut-turut.

Jiwa kompetisi di kota-kota besar agaknya memang mempengaruhi masyarakat Indonesia menjadi lebih individualis dan apatis terhadap sesama. Bangganya jika kita tidak termasuk dalam golongan 'egois' tersebut. Dari acara ini kita tahu ada sekelompok orang yang masih mampu berbagi dan peduli terhadap lingkungannya ditengah dunia yang sulit ‘melihat’ dan ‘mendengar’. Kita tidak perlu membagi apa yang tidak mampu kita bagi, terkadang sejumput semangat, doa dan rasa menghargai memiliki nilai yang lebih berarti. Jadi apa yang akan kamu mulai beri?

Saturday, October 4, 2014

Ironi Bumi Cendrawasih, Sulit Air ditengah Limpahan Air

Tahukah kalian salah satu provinsi di Indonesia yang paling banyak digenangi air dan berlimpah-ruah sumber airnya, namun masih bisa kekurangan air bersih untuk kehidupan sehari-hari? Papua Tengah merupakan bagian dari Propinsi Papua yang memiliki alam yang indah. Berada di ketinggian lebih kurang 2000 Mdpl (meter dari permukaan laut) serta memiliki suhu udara yang cukup dingin. Danau Paniai yang luas, indah dan perawan, belum tersentuh oleh penyelam danau, mungkin akibat dari airnya yang sedingin air es.

Drink Water, by: Photograph
Ada beberapa hal yang cukup membuat kita sedikit bertanya-tanya dan merasa ironi. Padatnya hutan Papua yang seperti brokoli hijau, titik mata air bening dan dingin segar ada dimana-mana di bumi Papua ini. Tapi bagaimana mungkin masyarakat disini krisis air bersih? Belakangan diketahui bersumber dari cara warga Papua Tengah menyikapi kekayaan mereka.

Air merupakan bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari tak terkecuali bagi kita yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Dalam ulasan ini kita akan menemukan hal-hal ironi di Papua Tengah. Memiliki banyak sumber mata air ternyata idak membuat Papua Tengah ‘kenyang air’ dalam hal minuman bersih, apalagi cuci-mencuci dan sistem kakus di sana.

Terkadang memang prinsip-prinsip dasar adat istiadat perlu, bahkan harus dijaga. Tetapi selayaknya prinsip-prinsip tersebut mestilah bersifat lentur dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Hal-hal yang tak biasa bisa langsung ditemukan setelah anak-anak lelah bermain dan datang ke tong penampungan air hujan untuk meneguk langsung begitu saja air hujan yang telah tertampung.

Jangan pikir kita orang kota, bahkan warga desa yang sudah terbekali banyak ilmu pengetahuan atau kepala desa di sana dapat melarang mereka untuk meneguk air hujan. Bisa-bisa kita dianggap aneh dan tak tahu menghargai mereka. Air hujan diminum seakan-akan tak ada lagi air di tanah Papua. Sungguh sebuah peristiwa yang tak pernah ditemukan di kota besar. Rasanya ironis bukan melihat kenyataan yang ada seperti demikian. Melarang mereka minum tidaklah menyelesaikan masalah. Hal yang kita anggap aneh adalah hal yang sangat ‘moderat’ di tanah Papua.

Kurangnya pendekatan secara pribadi dan ketidakpercayaan masyarakat nampaknya masih menjadi penyebab polemik yang ada, padahal air ada dimana-mana. Memang sulit rasanya untuk membuat kebiasaan baru yang baik bagi masyarakat di sebuah wilayah. Kita mengetahui masyarakat Papua memiliki sifat dengan pendirian yang kuat, oleh sebab itu sepantasnya kita harus berusaha untuk memberikan pengertian pentingnya air bersih bagi mereka.

Semoga air pegunugan, air danau dan sumber-sumber mata air lainnya di bumi cendrawasi ini suatu saat dapat bermanfaat bagi warganya. Sehingga fenomena ironi “Sulit Air Ditengah Limpahan Air” tidak lagi terjadi. Harapan tak muluk, pipa-pipa yang sempat dihancurkan kembali diperbaiki dan mengalirkan ‘Air Sejahtera’ bagi masyarakat daerah pegunungan Papua Tengah dan sekitarnya. Awetakoenaa Agapida, sebuah semboyan lokal bagi semangat Papua, Hari esok yang ceria!

Note: beberapa data diambil dari pernyataan Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe dan Asisten II Sekda Papua Elia Loupatty saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Pengelolaan Air Tanah, di Hotel Swissbel Jayapura, Senin (30/9).